Kamis, 17 Mei 2012

bencana akibat ulah manusia

Kerusakan dan Bencana Akibat Prilaku Manusia

Bencana bisa terjadi dimana-mana di suatu lokasi atau daerah tertentu, bahkan di belahan bumi tertentu. Demikian halnya dengan kerusakan yang dilakukan oleh perseorangan, kelompok, daerah tertentu bahkan negara tertentu. Allah swt telah menjadikan bumi ini untuk manusia sebagaimana firman-Nya, ”Dialah Allah yang menjadikan untukmu segala yang ada di bumi...”(Q.S.Al-Baqarah:29)

Bila kita cermati, antara komponen yang satu dengan komponen yang lain saling terkait. Misalnya, Allah menjadikan oksigen yang merupakan komponen yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan juga binatang, yang dihirup oleh manusia saat berlangsungnya proses pernapasan dan kemudian manusia mengeluarkan karbon dioksida yang sangat diperlukan oleh tumbuh-tumbuhan. Jadi antara manusia dengan tumbuh-tumbuhan mempunyai hubungan yang saling terkait.

Allah telah mengatur sedemikian sempurna, misal tentang saling keterkaitan oksigen dan karbon dioksida, dan antar-komponen saling bersembiose mutualis. Manusia tak mungkin dapat hidup tanpa oksigen, sebaliknya tumbuhan tak bisa hidup tanpa karbon dioksida. Sehingga alam ini berada di dalam keseimbangan.

Contoh lain, apabila pohon-pohon ditebangi tanpa mengindahkan keseimbangan alam, maka yang terjadi adalah karbon dioksida yang seharusnya dihisap oleh tumbuhan menjadi menimbun di udara yang akhirnya dapat merusak lapisan ozon, yang berdampak kepada tembusnya secara langsung sinar matahari ke bumi yang akan menyebabkan meningkatnya suhu bumi. Sehingga berpengaruh kepada munculnya bencana-bencana di bumi ini, misalnya meningkatnya suhu bumi, akibatnya es di kutub mencair dan akan berpengaruh terhadap meningkatnya permukaan air laut yang seperti terjadi sekarang ini (Wallahu ´alam).
Kerusakan dapat saja terjadi dalam berbagai bentuk. Misalnya akibat penebangan hutan ilegal (Illegal logging). Hutan yang berfungsi sebagai penyangga air menjadi gundul sehingga mengakibatkan banjir. Padahal Allah swt sudah mengaturnya, menjadikan pohon-pohon itu sebagai pohon besar yang akarnya mencekram jauh ke dalam tanah yang dilengkapi dengan akar papan dan akan menjadikan air-air hujan yang turun ke bumi yang kemudian mengalir ke alur-alur kecil dengan pelan-pelan dan dapat menghindari banjir.

Semua ini akan sangat mengasikkan bila saja anda berkunjung ke hutan primer dan menyaksikan bagaimana proses itu berlangsung. Pada awalnya air hujan akan menyangkut pada daun-daun pepohonan dan sebagian mengalir melaIui pohon dan kemudian ke tanah, ini juga akan membawa pengaruh kepada tertahannya air di perbukitan.

Boleh jadi bencana banjir yang terjadi di negeri ini, sebagai akibat dari kerusakan hutan. Kita simak firman Allah, ”Dan carilah pada apa yang Allah telah berikan kepadamu (kebahagiaan) kampung akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) dunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain)-sebagaimana Allah telah berbuat bait kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”(Q.S Al- Qasas 28:77).
Implikasi
Bila kita menyimak, jelaslah bahwa kerusakan-kerusakan di bumi dibuat oleh manusia yang berdampak munculnya bencana. Itu sebabnya Allah tidak menyukai manusia berbuat kerusakan. Dan melanggar larangan Allah swt, adalah dosa. Oleh sebab itu, semua ini menjadi tugas seluruh manusia dibumi ini yang mayoritasnya muslim untuk menjaga bumi ini dan ikut menyadarkan umat manusia lainnya tentang pemanasan global yang makin tragis sekarang ini.

Kita tentu sadar, bahwa yang menghuni bumi Allah ini bukan hanya umat islam. Makanya, firman Allah swt harus juga dipahami oleh seluruh manusia di bumi, terutama warga negara maju yang menyebut dirinya sangat dominan berperan dalam pemanasan global, walaupun banyak di antara negara maju tidak sadar dan tidak mengakuinya. Apalagi negara-negara industri seperti Amerika Serikat dan lainnya sangat berperan dalam mensuplai kabon monoksida ke udara walaupun di antara mereka ada yang tidak mau mengakui seperti yang terjadi pada konferensi pemanasan global di Kyoto, Jepang.

Kita sebagai bangsa, penting memiliki kesadaran. Sebagai umat muslim haruis menyikapi peringatan Allah swt sebagaimana dalam surat (Al-Qasas;77) tentang tugas-tugas kita ke depan dalam hal mencari kebahagiaan akhirat dari apa yang telah Allah berikan kepada kita, mencari kenikmatan dunia, berbuat baik dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi ini. Melanggarnya, berarti membangkang terhadap perintah Allah swt.

Selama ini kita tidak menyadarinya dan banyak melakukan pembangkangan terhadap perintah Allah swt. Ambil contoh di Banda Aceh sekarang, hampir semua kita telah menggunakan kendaraan bermotor untuk bergerak dari satu tempat ketempat yang lain. Memang hal itu memudahkan bagi kita untuk mencapai suatu tujuan/lokasi. Namun, kita tidak sadar telah berperan dalam meningkatkan pemanasan global. Belum lagi kaula muda yang menggunakan kendaraan yang berpolusi tinggi. Mereka justru senang karena bisa mengepulkan asap-asap tebal dan bunyi bising yang mengganggu ketentraman umum.

Demikian lagi mereka yang tinggal di komplek pemukiman tertentu, apalagi padat, sehingga setiap saat penghuninya membakar sampah yang ada di rumahnya, padahal tindakan itu disamping mengganggu penghuni lain, juga ikut dalam menambah muatan karbon dioksida di udara. Di sini pemerintah juga perlu menyediakan tempat-tempat pembuangan sampah (TPS) untuk menghindari keikutsertaan kita dalam menambah bobot pemanasan global. Kesadaran ini penting untuk kita bangun dari sekarang, sehingga peringatan Allah yang memberikan amanah bumi untuk kesejahteraan umat manusia tidak menjadi mudaharat atau laknat bagi kehidupan manusia akibat bencana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar